The original post in English, “Enjoying God’s Word,” can be found here. This Indonesian version was created with the help of my colleague, June Rumthe.
Pernahkah Anda mencoba untuk membangun atau menghentikan suatu kebiasaan hanya dengan membaca atau mendengarkan informasi? Apakah Anda pernahkah berhasil mengubah suatu kebiasaan hanya karena tahu bahwa hal itu benar untuk dilakukan? Menurut pengalaman saya, cara itu biasanya tidak terlalu berhasil. Kita sering bergumul untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan, tetapi sebaliknya, kita melakukan tindakan yang seharusnya kita hindari. Paulus berbicara tentang hal ini dalam hidupnya sendiri di Roma 7:15 ketika ia berkata, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (TB). Dari sini kita dapat memahami bahwa pengetahuan tidak selalu menghasilkan tindakan; apa yang ada di kepala kita tidak selalu dapat mengarahkan hati kita. Namun, kita menjalani hidup—dan membaca Alkitab—seolah-olah demikian, seolah-olah yang kita butuhkan hanyalah sedikit informasi tambahan untuk menjalani kehidupan Kristen secara utuh dan penuh sukacita. Kita sangat terampil dalam mempelajari informasi, tetapi untuk sampai pada tahap mengubah perilaku kita itu sulit. Hubungan kita dengan Firman Tuhan membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman intelektual; itu juga membutuhkan keterlibatan hati kita.
Gagasan utama saya adalah bahwa kita perlu menikmati Alkitab. Memahami apa yang kita baca seharusnya menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan. Terkadang, untuk benar-benar memahami suatu teks, kita perlu menghayatinya terlebih dahulu. Dalam tulisan berikut ini, saya akan banyak merujuk pada sebuah buku yang saya baca sebagai sumber inspirasi: Enjoying the Bible: Literary Approaches to Loving the Scriptures oleh Matthew Mullins.
Firman Tuhan Lebih dari Sekadar Buku Petunjuk
Kita biasanya tahu hal yang benar untuk dilakukan, tetapi pengetahuan di kepala tidak selalu mampu menggerakan hati kita. Meskipun kita menyadari hal ini , kita sering membaca Alkitab seolah-olah itu hanyalah buku panduan untuk pikiran kita, dengan hanya mencari ide-ide utama untuk diterapkan. Sebenarnya, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari Alkitab dengan cara itu. Namun, masalah muncul ketika cara ini menjadi satu-satunya metode kita dalam membaca Alkitab. Ketika kita berasumsi bahwa memahami setiap teks hanya berarti menangkap gagasannya dan menerapkannya secara sederhana, kita berisiko kehilangan banyak bagian Alkitab dirancang untuk menyentuh hati kita. Kita juga mengabaikan peran penting hati kita dalam upaya mengubah tindakan kita.
Ini bukan berarti kita mengabaikan kebenaran atau ajaran Alkitab. Dalam 2 Timotius 3:16 Paulus menjelaskan kepada Timotius bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (TB). Kita perlu memperluas pemahaman kita tentang apa arti pengajaran. Ini bukan hanya tentang mempelajari sebuah pelajaran dengan pikiran kita. Paulus menekankan kepada Timotius, “segala tulisan.” ini menunjukkan bahwa semua hal, bahkan hal-hal yang tampaknya sulit untuk dipahami juga termasuk di dalamnya.
Dan ada beberapa bagian Alkitab yang tidak selalu sederhana dan berbicara secara langsung. Di dalam Alkitab, Allah menggunakan berbagai bentuk seni—seperti puisi, amsal, perumpamaan, cerita—untuk berkomunikasi. Bentuk-bentuk ini bertujuan untuk menarik imajinasi kita dan menggerakkan hati kita, yang pada gilirannya membawa kita kepada pemahaman yang lebih dalam dan transformatif.
Paulus berbicara tentang hati dan pikiran kita dalam Kolose 3:1-2:
Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. (TB)
Dalam bahasa Yunani, kata “carilah” (NIV: set your hearts on) berasal dari kata yang berarti “mencari, mendambakan, menginginkan.” Ketika Paulus mengatakan “pikirkanlah” (NIV: set your minds on), itu berasal dari kata yang berarti ”berpikir.” The Bible Knowledge Commentary mencatat bahwa “Yang pertama menyiratkan perjuangan; yang kedua menyiratkan konsentrasi.” Sehingga kalau kita hanya memandang Alkitab sebagai buku panduan untuk pikiran kita, hal itu dapat mengakibatkan hilangnya pemahaman tentang bagaimana Alkitab juga bertujuan untuk mengajar hati dan keinginan kita. Tapi seperti apa bentuknya?
Saya selalu tertarik pada Mazmur 119. Mazmur ini sepenuhnya didedikasikan untuk Firman Tuhan, dari awal hingga akhir. Mazmur ini dipenuhi dengan permadani tema yang kaya—tema-tema yang muncul berulang kali di sepanjang mazmur. Hal yang sangat mencolok adalah betapa banyak tema-tema Firman Tuhan ini tidak hanya berfokus pada pemahaman intelektual, tetapi juga secara jelas menyentuh emosi dan perasaan. Beberapa tema lainnya menunjuk langsung pada tindakan dalam menghidupi kebenaran Tuhan. Tema-tema itu meliputi ketaatan, cinta pada firman Tuhan, mengingatnya, berharap padanya, meminta pengertian, atau agar Tuhan mengajar pemazmur, serta tidak merasa dipermalukan oleh orang sombong yang meremehkan Firman Tuhan, dan banyak lagi.
Salah satu tema yang menarik adalah kesukaan. Pemazmur bersukacita dalam Firman Tuhan—tema ini muncul 8 kali, seperti dalam ayat 47 (TB): “aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu / yang kucintai itu.” Dalam tafsirannya tentang Mazmur, John Goldingay mendefinisikan kata Ibrani yang digunakan untuk kesukaan (NIV: delight) sebagai “sikap bermain seorang anak yang tanpa hambatan dan tanpa beban.” Apakah ini cara kita mendekati Firman Tuhan? Jika tidak, bagaimana kita bisa mencapainya?
Hati adalah istilah lain yang muncul berulang kali dalam Mazmur 119. Dalam Perjanjian Lama konsep “hati” tidak dipahami seperti cara pandang dunia Barat saat ini, yang memisakan antara hati dan pikiran. Dalam bahasa Ibrani, keduanya dianggap sebagai satu kesatuan. Theological Dictionary of the Old Testament mengatakan bahwa hati “berfungsi dalam semua dimensi kehidupan manusia dan digunakan sebagai istilah untuk semua aspek dari diri seseorang.” Berbeda dengan pemahaman Barat, yang mengaitkan hati dengan emosi dan perasaan, konsep Ibrani dalam Perjanjian Lama jauh lebih luas. Hati melambangkan pusat dari seluruh keberadaan seseorang. Meskipun saya sering menyebutkan kepala dan hati sebagai dua hal yang berbeda, ingatlah bahwa para penulis Perjanjian Lama tidak berpikir seperti itu.
Luangkan waktu sejenak untuk merenungkan Mazmur 119. Bacalah dan perhatikan bagaimana mazmur ini mempengaruhi perasaan Anda. Apa gambaran yang muncul dalam pikiran Anda. Apa pesan yang disampaikan kepada Anda melalui setiap bagiannya. Sebagai mazmur yang sepenuhnya berfokus pada Firman Tuhan, sangat menarik untuk melihat seberapa dalam mazmur ini berbicara tentang emosi, perasaan, dan sikap hati kita. Ini berkaitan dengan bagaimana kita menemukan sukacita dalam Kitab Suci. Ini bukan sekedar tentang pengetahuan yang ada di dalam pikiran kita; ini tentang bagaimana Firman Tuhan menggerakkan dan mengubah kita dari dalam ke luar. Bagaimana jika kita membaca Mazmur 119 dengan sungguh-sungguh? Bagaimana jika kita mendalami maknanya, dan hidup sesuai dengan ajarannya, serta berusaha merasakan apa yang dirasakan oleh pemazmur?
Bentuk dan Isi Tidak Terpisahkan
Poin kedua saya adalah bahwa bentuk dan isi saling terkait. Bentuk komunikasi ini sangat penting, karena merupakan bagian integral dari pesan yang ingin disampaikan. Sering kali, para penulis Alkitab memilih cara-cara khusus untuk menulis. Misalnya, mengapa mereka terkadang menggunakan puisi daripada pernyataan atau perintah sederhana? Mengapa Yesus berbicara dalam perumpamaan? Mengapa kitab-kitab nubuat penuh dengan gambaran dan sering ditulis dalam bentuk puisi? Ini karena kita sering melupakan satu hal: bentuk membantu membangun makna. Apa yang disampaikan, dan bagaimana cara penyampaiannya, tidak dapat dipisahkan.
Mari kita perhatikan ungkapan pujian Paulus di akhir surat Roma pasal 11 (ayat 33-36). Pertimbangkan semua yang telah diajarkan Paulus kepada para pembacanya dalam 11 pasal sebelumnya. Ada banyak informasi berharga di sana, serta pemikiran mendalam dari seorang yang cerdas dan bijaksana. Dan kemudian, di akhir semua itu, dia mengatakan ini:
33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?
Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?
35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?
36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.
Mengapa ada sebuah puisi di sini? Puisi ini menyampaikan sesuatu yang melampaui sekedar kata-kata—Paulus berusaha mencapai sesuatu yang lebih dalam—perasaan takjub, heran, dan misteri.
Atau, mari kita lihat paradoks dalam Amsal 26:4-5 (TB):
4 Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.
5 Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.
Bagaimana keduanya bisa benar? Amsal-amsal ini tidak dimaksudkan untuk memberikan satu jawaban sederhana. Sebaliknya ini dirancang untuk membuat kita berhenti sejenak, bergumul, dan merenung, serta melibatkan imajinasi—dan hati kita. Yesus juga menggunakan paradoks, seperti dalam Matius 10:39. Dia berkata, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (TB). Ajaran ini mendorong kita untuk merenungkan jalanTuhan, yang seringkali lebih tinggi dan berbeda dari jalan kita, dan itu membutuhkan waktu. Tidak ada penerapan yang sederhana dalam ayat-ayat ini. Kita cenderung berusaha memisahkan bentuk dari isi, medium dari pesan. Tetapi contoh-contoh ini menunjukkan bahwa hal tersebut tidak selalu mungkin. Bentuk pesan adalah bagian dari bagaimana ia berkomunikasi dengan kita.
Daripada mencari jawaban cepat di Alkitab setiap kali kita membukanya dan memutarbalikkan ayat-ayat di luar konteks agar sesuai dengan kebutuhan kita, ingatlah untuk juga mengalihkan perhatian kepada bagian-bagian artistik yang indah yang menahan jawaban. Ini mendorong kita untuk merenungkan bagian-bagian kehidupan yang membingungkan, paradoks, dan tidak dapat diketahui. Dalam konteks Amsal, apakah itu menunjukkan bahwa saya harus menjawab orang bebal, atau sebaliknya? Mungkin saya harus merenungkan ayat-ayat dari Amsal ini dan melihat ke mana Tuhan menuntun saya dalam keadaan khusus ini.
Perhatikan Mazmur 23 (TB):
1 TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
3 Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar
oleh karena nama-Nya.
4 Sekalipun aku berjalan
dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya,
sebab Engkau besertaku;
gada-Mu dan tongkat-Mu,
itulah yang menghibur aku.
5 Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan lawanku;
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;
pialaku penuh melimpah.
6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku,
seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Saya berpendapat bahwa untuk sepenuhnya memahami Mazmur 23 kita perlu melampaui pemahaman intelektual tentang penghiburan. Itu berarti bahwa ketika kita membacanya seharusnya Mazmur 23 benar-benar menghibur atau memberikan ketenangan—itu seharusnya membuat kita merasa terhibur. Ada perbedaan besar antara mengetahui bahwa Tuhan adalah sumber penghiburan dan merasakan penghiburan itu sendiri. Puisi Mazmur 23 menunjukkan bahwa Tuhan adalah penghibur kita yang menghibur kita melalui interaksi dan pengalaman bersama-Nya. Mari kita pelajari tiga aspek dari puisi ini yang merupakan bagian penting dari maknanya.
Pertama, puisi dalam bahasa Ibrani ini terdiri dari 19 baris: 9+9 (18) dengan satu baris yang terletak tepat di tengah, sebagai fokus utama (jadi bentuk adalah 9+1+9). Terdapat sembilan baris, diikuti oleh baris inti, “sebab Engkau besertaku,” dan kemudian diakhiri dengan sembilan baris lagi. Hal lain yang menarik adalah: bagian awal terdiri dari 26 kata Ibrani, dan bagian akhir terdiri dari 26 kata Ibrani. Simetri ini bukanlah kebetulan. Ini merupakan salah satu ciri khas puisi Ibrani.
Kedua, di awal, kita menemukan ungkapan “TUHAN adalah gembalaku” (menggunakan perspektif orang ketiga, yang menggambarkan Tuhan). Di akhir, kita membaca “aku akan diam dalam rumah TUHAN” (masih dalam perspektif orang ketiga, berbicara tentang Tuhan). Tetapi tepat di tengah, ketika penulis menggambarkan berjalan melalui “lembah kekelaman,” ia beralih ke sapaan langsung, menggunakan perspektif orang kedua yang berbicara kepada Tuhan: “Engkau besertaku.” Mazmur ini mengatakan bahwa secara intelektual kita memahami Tuhan menyertai kita, tetapi justru di masa-masa tersulit kita, di tengah kegelapan yang paling dalam—tepat di tengah-tengah mazmur ini—kita merasakan kehadiran Tuhan yang paling dekat dan dapat menyapa-Nya secara langsung. Itulah cara lain mazmur ini menyentuh hati kita.
Ketiga, mari kita perhatikan citra yang ditampilkan. Di awal (ayat 1-3), Tuhan menuntun saya; Dia berada di depan saya. Kemudian di bagian akhir (ayat 6), kebajikan dan kemurahan mengikuti saya; Dia ada di belakang saya. Tetapi di tengah (ayat 4-5), Tuhan beserta saya; Dia berada di samping saya. Saya mulai memahami gambaran Tuhan yang berada di depan saya, mendahului saya, di samping saya, dan di belakang saya—Tuhan ada di mana-mana! Tidak ada tempat yang bisa saya pergi untuk lari dari hadirat Tuhan. Jadi saya dapat dengan yakin mengatakan dan merasakan bersama pemazmur: Tuhan, “Engkau besertaku.” Ini semua terungkap dalam puisi, keindahan kata-kata yang digunakan secara artistik. Lapisan demi lapisan keindahan dan seni. Tuhan yang sama yang berjalan di depan Anda adalah Dia yang berada di samping Anda, dan yang akan mengikuti Anda di belakang dengan kebajikan dan kemurahan sepanjang hidup Anda. Inilah Tuhan kita, yang selalu bersama kita, di sekeliling kita. Kita tidak pernah terpisah dari hadirat-Nya.
Dan ketika kita merasakan, di dalam hati kita, bahaya seperti yang digambarkan di tengah-tengah mazmur ini, saat kita berjalan melalui lembah kekelaman, saat itulah kita merasakan kehadiran Tuhan paling dekat, dan kita bisa berbicara langsung kepada-Nya: “aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” Ini berbeda dari sekadar membaca mazmur untuk mendapat informasi. Saya tidak hanya tahu di pikiran saya bahwa Tuhan menyertai saya, tetapi saya juga bisa merasakannya, jauh di dalam hati.
Memahami Alkitab dengan perasaan kita mungkin terasa agak canggung dan Anda mungkin khawatir tentang makna yang terkandung—Apakah bisakah sebuah ayat bisa diartikan sesuai keinginan kita, berdasarkan perasaan kita saat itu? Apakah kita masing-masing memiliki kebenaran pribadi kita sendiri? Jawaban singkatnya adalah tidak, tetapi saya percaya bahwa komunikasi artistik (seperti Mazmur) dapat membuka ruang untuk berbagi makna. Lagi pula, seni seringkali sengaja diciptakan agar sulit untuk didefinisikan secara pasti.
Saya pikir kita sudah tahu, secara intuitif, bahwa suatu ayat dalam firman Tuhan dapat memiliki arti yang berbeda pada waktu yang berbeda. Seberapa sering Anda kembali ke sebuah perikop atau ayat, dan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah Anda sadari? Kita sering mendengar seseorang berkata, atau mungkin kita sendiri yang mengatakannya, bahwa sebuah ayat telah “memiliki makna baru.” Apakah kita mengizinkan Roh Kudus untuk berbicara kepada kita?
Pikirkan kembali Mazmur 23 dan perjalanan kita untuk memahami maknanya. Apakah membaca dengan cara ini menunjukkan bahwa makna Mazmur 23 telah berubah, atau cara Anda membacanya sebelumnya tidak tepat? Atau mungkin ini berarti Anda telah berubah, dan hari ini, Anda telah memahami dimensi teks yang tidak Anda pahami sebelumnya?
Perhatikanlah bagaimana peristiwa besar dalam hidup telah mengubah cara kita melihat hal-hal yang biasa dengan cara baru. Misalnya, kasih. Apakah saya salah memahami arti kasih selama bertahun-tahun sebelum saya bertemu istri saya? Atau, apakah kasih kini memiliki makna baru yang melengkapi pemahaman lama yang saya miliki dari masa kecil saya, ketika kami jatuh cinta? Pemahaman saya yang sebelumnya tentang kasih tidaklah salah. Saya tahu orang tua saya mengasihi saya. Saya dikasihi oleh teman dekat. Namun, pengalaman baru saya dengan istri saya memberi saya pemahaman yang lebih dalam tentang makna kasih yang belum pernah saya pahami sebelumnya. Kemudian ketika kami dikaruniai seorang anak, saya mulai memahami kasih dengan cara yang berbeda, yakni kasih seorang ayah, serta kasih Bapa surgawi bagi kita. Makna kasih itu terus berkembang. Makna kasih selalu sebesar itu. Itu selalu merupakan sebuah rentang, atau spektrum—seiring waktu, saya telah menjadi orang yang dapat memahami berbagai aspeknya.
Ketika pemazmur mengungkapkan kepuasannya dalam Mazmur 23: “TUHAN adalah gembalaku; takkan kekurangan aku”—ia tidak menulis tentang perasaan yang sama sekali asing bagi kita. Pada suatu titik, kita semua pernah merasa puas. Namun pemazmur menuliskan tentang perasaan itu untuk membayangkan kepuasan dengan cara yang baru. Kita membaca mazmur dalam berbagai keadaan yang kita hadapi dan mengalami kepuasan sekali lagi, atau mungkin untuk pertama kalinya, atau mungkin dengan cara yang baru.
Kita memegang Firman Tuhan di tangan kita, tetapi sering kita menganggap bentuknya sebagai penghalang yang tidak berarti antara kita dan pesan., Padahal bentuk itulah yang seharusnya kita nikmati dan merupakan bagian dari pesan itu sendiri. Ketika kita memisahkan bentuk dari pesan, kita hanya mendapat sesuatu yang kurang dari Firman Tuhan, yang paling penting, tetapi juga sesuatu yang sulit untuk dinikmati.
Ketika kita berbicara tentang bentuk, kita juga berbicara tentang seni. Firman Tuhan itu indah, menawan, dan bernilai seni. Seni itu sangat penting. Tuhan menciptakan dunia ini dengan indah. Alastair Gordon, dalam Why Art Matters, mengatakan,
Seni itu penting karena ia menunjukkan kehadiran Tuhan, Sang Pembuat dan Pencipta utama. Seni itu penting karena mengingatkan kita tentang siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana perjalanan ini berakhir. Seni itu penting karena ia menyertai kita melewati badai; ia menyalakan lilin ketika malam tiba; ia menenangkan jiwa dan menyegarkan pikiran. Seni itu penting karena ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting, mengungkapkan duka dalam kata-kata, dan menemukan warna untuk sukacita dan nyanyian untuk ratapan. Seni itu penting karena ia mewujudkan gagasan, menyebabkan bangsa-bangsa bangkit dan meruntuhkan diktator. Seni itu penting karena keindahan itu penting, dan keindahan sejati adalah kemuliaan Tuhan. Seni itu penting karena Anda berarti dan Anda diciptakan menurut gambar Allah. (terjemahan saya)
Pikirkan betapa banyak bagian Alkitab yang ditulis dalam gaya artistik. Semua ini memiliki nilai yang sangat penting!
Membaca Firman Tuhan untuk Kasih dan Sukacita
Tujuan utama kita dalam membaca Firman Tuhan, seharusnya adalah untuk memperdalam kasih kita kepada Tuhan dan kepada sesama. Jika membaca Alkitab tidak membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam dan kenikmatan yang lebih besar terhadap Firman Tuhan, maka mungkin kita belum sepenuhnya memahami apa yang kita baca. Kita dapat belajar untuk mengenali dan membaca teks-teks artistik ini di dalam Alkitab dengan cara yang berbeda, yang dirancang untuk membangkitkan imajinasi kita dan mendorong perenungan. Tuhan tidak hanya mengundang kita untuk mempelajari Firman-Nya agar tahu yang benar dan yang salah; Tuhan juga menginginkan hubunganyang lebih dalam dengan kita. Alkitab memberikan teks yang dirancang untuk mencapai kedua tujuan tersebut. Bagian-bagian Alkitab yang artistik, puitis, dan indah bertujuan untuk menarik dan mempertahankan perhatian kita. Bagian-bagian itu tidak meninginkan kita hanya mencari fakta, alasan, atau jawaban cepat. Sebaliknya, bagian itu ingin kita bertanya, merasa kagum, bergumul, dan bersukacita dalam upaya kita untuk mengenal Tuhan.
Pertama, mari kita ambil langkah perlahan. Kita sering terburu-buru ketika membaca Alkitab, mencari kesimpulan dan penerapan singkat. Tetapi semangat membaca untuk menikmati dan mencintai berarti menikmati setiap kata. Untuk memahami puisi seperti Mazmur 23, kita perlu meluangkan waktu, membacanya berulang-ulang, merenungkannya, menginternalisasikannya, menempatkan diri kita di dalam konteksnya.
Kedua, mari kita membaca seperti anak-anak. Yesus memberitahu kita untuk datang kepada-Nya dengan hati yang polos seperti anak kecil. Anak-anak terpesona oleh cerita, dan tidak terburu-buru untuk mereduksinya menjadi gagasan abstrak atau mencari inti sari dan pelajaran moralnya. Mereka hanya menikmati setiap momen. Kita bisa membacakan cerita yang sama kepada anak-anak berulang kali, dan mereka masih menyukainya. Sayangnya kita telah kehilangan kemampuan untuk terpesona dengan apa yang kita baca di Alkitab, dan cendrung untuk membaca hanya untuk tujuan tertentu. Kita susah untuk bersenang-senang dan menyelami cerita, sama seperti anak-anak dengan imajinasi mereka.
Ketiga, ingatlah bahwa belajar Alkitab dan menikmatinya berjalan beriringan. Anggaplah seperti ini: belajar Alkitab itu seperti olahraga angkat beban. Belajar membangun kekuatan dan pemahaman yang mendalam. Tetapi membaca Alkitab untuk kenikmatan itu seperti makan: itu adalah sebuah kesenangan. Kita makan untuk hidup, betul, tetapi kita juga ingin makan makanan yang enak! Kita ingin menikmati hidangan itu. Dan ketika kita makan dengan baik, kita berada dalam posisi yang lebih baik untuk berlatih di gym dan menjadi lebih kuat begitu juga sebaliknya. Ketika kita berlatih keras, itu membuat kita lapar dan perlu lebih banyak makanan. Dengan demikian kita perlu berolahraga dan makan, kita membutuhkan keduanya, belajar dan menikmati, untuk bertumbuh secara rohani dan benar-benar mencintai Firman Tuhan.
Mendalami aspek-aspek artistik Alkitab, seperti Mazmur 23, tidak hanya mengajar kita melalui ide-ide dan penerapan cepat tetapi juga dengan mengarahkan kita kembali pada perspektif kita. Hal ini memupuk kepercayaan yang mendalam kepada Tuhan dan menarik kita ke dalam hubungan yang lebih penuh kasih kepada Firman-Nya dan kepada-Nya.
Kesimpulan
Tuhan menggunakan keindahan Firman-Nya dan bentuk-bentuk artistik untuk mengekspresikan Diri-Nya dan menarik kita ke dalam persekutuan yang lebih dalam. Firman Tuhan itu indah, dan keindahannya itu untuk dinikmati. Kenikmatan ini bukanlah halangan untuk memahami inti kebenaran yang tersembunyi di balik bentuk yang sulit dipahami; Tuhan tidak mencoba untuk merahasiakan semuanya itu. Sebaliknya, itu adalah jalan untuk menjalin hubungan dengan Pencipta kita, menuju pemahaman yang lebih dalam, dan menuju kasih. Unsur-unsur artistik dari Firman Tuhan menunjuk pada kehadiran Tuhan dan mengingatkan kita siapa diri kita.
Belajarlah membaca Alkitab sebagai sebuah karya seni. Biarkan keindahannya memikat Anda dan menarik Anda lebih dekat kepada Tuhan. Dalam Yohanes 14:21, Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (TB). Semakin kita mencintai Firman Tuhan, semakin kita akan melakukannya. Berakar dalam Kitab Suci dengan cara ini—dalam cinta yang mendalam akan Firman Tuhan dan kenikmatan dalam mengalaminya—akan menarik kita kembali lagi dan lagi, tidak hanya mengubah apa yang kita ketahui, tetapi juga siapa diri kita.
Leave a Reply